MEMBATIK DENGAN ECOPRINTING SEBAGAI UPAYA MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN
- Selasa, 05 Desember 2023
- Berita Pengumuman Sekilas-info
- Administrator
- 0 komentar

Oleh: Ibu Maisarah, S.Pd
Guru Mapel IPAS SMKN 1 Berau
Mata Pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang disebut Projek IPAS merupakan integrasi antara Social Sciences dan Natural Sciences. Selanjutnya Projek IPAS berfungsi untuk membekali peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan dikehidupan nyata pada abad – 21 yang berkaitan dengan fenomena alam dan sosial yang ada disekitarnya baik secara alamiah dengan menerapkan konsep sains. Dengan kata lain, setelah mempelajari mata Pelajaran ini, peserta didik dapat memperoleh kecakapan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah agar dapat hidup lebih nyaman, lebih sehat dan lebih baik.
Dalam pembelajaran Projek IPAS, haruslah dikemas dengan dalam bentuk Project based learning (PjBL) sebagai yang pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pemmbelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari hari untuk dipecahkan secara berkelompok.
Ecoprinting adalah sebuah teknik cetak dengan pewarnaan kain alami yang cukup sederhana namun dapat menghasilkan motif yang unik dan otentik. Prinsip pembuatannya adalah, melalui kontak langsung antara daun, bunga, batang atau bagian tubuh lain yang mengandung pigmen warna dengan media kain tertentu. Teknik ini merupakan hasil perkembangan dari teknik ecodyeing, yaitu pewarnaan kain dari alam. Indiana Flint pada tahun 2006 mengembangkannya menjadi teknik ecoprint.
Membatik dengan ekoprinting dapat menggali kemampuan seni peserta didik, motif kain yang dihasilkan biasanya akan selalu berbeda meski menggunakan jenis daun dari tumbuhan yang sama sesuai dengan desain yang telah disiapkan oleh peserta didik. Warna dan motif yang tercetak pada kainpun pada umumnya akan memiliki karakteristik yang otentik bergantung pada letak geografis tanaman berasal. Ketelatenan dan keuletan menjadi kunci utama dalam proses pengerjaannya. Bahan alami seperti daun, bunga, dan kulit kayu digunkan sebagai pewarna alami menggantikan pewarna sintesis yang berpotensi merusak lingkungan terutama pencemaran air dan air tanah. Hal ini juga bisa menjadi terobosan baru bagi dunia fashion. Untuk menentukan apakah sebuah tanaman bisa dijadikan pewarna alami dalam ecoprinting atau tidak, kita dapat mengujinya berdasarkan warna, kandungan air dan aroma tanaman. Kandungan air sangat mempengaruhi keberhasilan proses ecoprinting itu sendiri.
- Tanaman beraroma tajam dapat menjadi salah satu indikasi bahwa tanama tersebut dapat digunakan sebagai pewarna alami.
- Jika tanaman digosokan kesebuah kain dan meninggalkan noda maka daun tersebut potensial untuk dijadikan pewarna alami.
- Apabila daun direndam pada air panas selama 10 menit dan merubah warna pada air




